readbud.com membayar hanya untuk membaca dan memberi komentar

readbud - get paid to read and rate articles
Tampilkan postingan dengan label Mimpi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mimpi. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Februari 2011

Mimpi - 2

Satu dari masalah terbesar umat manusia yang belum terbongkar ialah misteri mimpi. Sejak dulu kala, manusia telah mencoba menganalisa dan mencoba pula untuk menerangkan mimpi di dalam istilah yang berhubungan dengan ramalan dan psikologi, namun walaupun saat ini telah banyak ukuran keberhasilannya, kita mungkin masih belum dapat secara tepat menjawab pertanyaan: ‘Apakah mimpi itu?’.
Seorang penyair Inggris, William Wordsworth memiliki sebuah konsep yang mengejutkan: bahwa kehidupan yang kita jalani ini semata-mata sebuah mimpi dan kita akan ‘sadar’ kepada kenyataan yang ‘nyata’ apabila kita mati, jika ‘mimpi’ kita berakhir…. Satu konsep yang mirip digambarkan dalam satu ceritera Buddhis kuno yang sangat menarik yang menceriterakan satu dewa yang sedang bermain-main bersama beberapa dewa lainnya. Dewa tersebut merasa lelah, kemudian berbaring tidur sebentar dan menghilang (meninggal). Ia terlahir di bumi sebagai seorang wanita. Ia menikah, mempunyai beberapa orang anak, dan hidup sampai usia tua. Setelah ia meninggal di bumi ini, ia kembali terlahir sebagai dewa di dalam kelompok para dewa yang baru saja selesai bermain-main tadi.
Apa yang dapat Buddha Dhamma katakan tentang mimpi? Buddha Dhamma membagi keterbukaan kepada mereka yang menganggap dirinya mahir dalam menafsirkan mimpi. Orang-orang tersebut memperoleh banyak uang memanfaatkan kebodohan pria dan wanita yang percaya bahwa setiap mimpi mempunyai arti ramalan atau arti spiritual.
Menurut psikologi Buddha Dhamma, mimpi merupakan proses pikiran yang terjadi sebagai aktivitas pikiran. Peristiwa mimpi erat hubungannya dengan peristiwa tidur, dan peristiwa tidur ini dapat dianggap terdiri dari lima tahap:
  • Tahap mengantuk
  • Tahap tidur ringan (tidur ayam)
  • Tahap tidur lelap (pulas)
  • Tahap tidur ringan (tidur ayam)
  • Tahap bangun tidur.
Arti dan penyebab mimpi merupakan bahan diskusi yang menarik di dalam buku
terkenal ‘Milinda Panha’ atau ‘Pertanyaan-pertanyaan Raja Milinda’. Bhikkhu Nagasena menjelaskan bahwa penyebab mimpi ada enam macam, tiga di antara yang pertama ialah angin, air empedu dan lendir/dahak. Yang keempat adalah campur tangan kekuatan gaib; yang kelima ialah bangkitnya pengalaman-pengalaman lampau, dan yang keenam adalah pengaruh peristiwa-peristiwa yang akan terjadi (akan datang). Dijelaskan pula bahwa mimpi hanya terjadi pada tahap ‘tidur ringan’, yang disebut sebagai ‘mirip tidurnya kera’. Di antara keenam penyebab yang diterangkan oleh Bhikkhu Nagasena, dengan nyata dijelaskan bahwa jenis mimpi yang terakhir merupakan mimpi yang mengandung ramalan dan paling penting, sedangkan yang lainnya relatif tidak berarti.
Mimpi adalah gejala yang diciptakan oleh pikiran dan mimpi merupakan kegiatan-kegiatan pikiran. Semua manusia bermimpi, walaupun beberapa di antaranya tidak ingat. Buddha Dhamma mengajarkan bahwa mimpi mempunyai arti psikologi. Enam sebab yang disebutkan di atas dapat di golongkan ke dalam empat cara sebagai berikut :
  1. Jenis Pertama. Setiap satu pemikiran yang muncul ikut terkesan di dalam pikiran bawah sadar dan beberapa di antaranya dengan kuat mempengaruhi pikiran, tergantung keinginan kita. Ketika kita sedang tidur, beberapa pemikiran ini terangsang dan muncul sebagai ‘gambar-gambar’ yang bergerak di hadapan kita. Hal ini terjadi karena selama tidur: kelima indria yang merupakan penghubung kontak kita dengan dunia luar, tertahan sementara. Lalu kesan bawah sadar bebas untuk menjadi dominant dan mengulangi pemikiran-pemikiran yang tertimbun. Mungkin jenis mimpi ini bermanfaat bagi para ahli penyakit jiwa, namun tak dapat digolongkan ke dalam mimpi yang mengandung ramalan. Mimpi-mimpi ini semata-mata cerminan pikiran pada saat kita sedang beristirahat.
  2. Jenis Kedua. Mimpi jenis ini disebabkan oleh gangguan luar (eksternal) dan gangguan dalam (internal) yang menimbulkan sebuah ‘rangkaian pemikiran yang dapat dilihat’, yang ‘dilihat’ oleh pikiran ketika kita sedang istirahat. Faktor-faktor internal adalah faktor yang menganggu tubuh (misalnya sebuah makanan berat yang menyebabkan seseorang tidak dapat tidur enak atau tak seimbang dan gesekan antara unsur-unsur pembentuk tubuh). Gangguan eksternal adalah terganggunya pikiran (walaupun orang yang tidur mungkin tidak menyadarinya) oleh gejala-gejala alamiah seperti cuaca, angin, rasa dingin, hujan, gemerisik dedaunan, bunyi berderaknya jendela. Pikiran bawah sadar bereaksi terhadap gangguan tersebut dan menciptakan gambar-gambar untuk ‘menghilangkan’ gangguan tersebut. Pikiran tampaknya menyesuaikan diri terhadap gangguan tersebut melalui suatu cara tertentu sehingga orang yang bermimpi (pemimpi) dapat meneruskan tidurnya dengan enak (tak terganggu). Juga… mimpi-mimpi jenis ini tidak penting dan tak perlu ditafsirkan.
  3. Jenis Ketiga. Mimpi yang penting adalah mimpi yang mengandung ramalan. Mimpi ini jarang di alami, dan terjadi apabila terdapat peristiwa mendatang yang sangat berkaitan dengan orang yang bermmpi. Buddha Dhamma mengajarkan bahwa di samping dunia nyata yang dapat kita alami , juga terdapat para dewa yang berdiam di alam lain, atau juga para hantu yang terikat pada bumi ini, kita tidak dapat melihatnya. Mereka mungkin saja kerabat atau sahabat-sahabat kita yang telah meninggal dunia dan telah dilahirkan kembali sebagai makhluk-makhluk tersebut. Mereka memelihara hubungan batinnya yang lampau dan melekat kepada kita. Apabila umat Buddha melimpahkan jasa kepada para dewa atau orang-orang yang telah meninggal dunia, ia ingat dan mengundang makhluk-makhluk tersebut untuk turut merasa gembira di dalam kebaikan atau jasa tersebut. Jadi ia menumbuhkan satu hubungan batin kepada mereka yang telah meninggal dunia. Sebagai akibatnya para dewa merasa gembira dan mereka tetap memperhatikan kita , mereka menunjukkan sesuatu melalui mimpi andaikata kita menghadapi suatu masalah besar dan mereka mencoba melindungi kita dari bahaya. Dengan demikian, apabila terdapat sesuatu yang penting yang akan terjadi dalam kehidupan kita, mereka menggerakkan energi batin tertentu ke dalam pikiran-pikiran kita, yang terlihat sebagai mimpi. Mimpi-mimpi ini dapat memperingatkan kita dari bahaya yang akan terjadi atau bahkan agar kita bersiap-siap menghadapi kabar baik yang sangat besar. Pesan ini diberikan dalam bentuk simbol (kebanyakan seperti film negatif) dan harus ditafsirkan dengan menggunakan kecerdasan (intelegensia). Sungguh patut disayangkan, bahwa kebanyakan orang salah anggapan terhadap dua jenis mimpi pertama dengan jenis mimpi ketiga ini, dan akhirnya memboroskan waktu dan uang, berkonsultasi kepada para penafsir mimpi dan para dukun palsu.
  4. Jenis Keempat. Pikiran kita merupakan gudang dari semua pengalaman yang tertumpuk semenjak masa lampau. Kadang-kadang apabila sebuah perbuatan akan masak, pikiran yang sedang istirahat selama tidur, dapat menciptakan ‘gambar’ apa yang akan terjadi. Yang lain lagi, perbuatan-perbuatan yang akan datang menjadi sangat penting dan akan terkesan dengan kuat, lalu pikiran ‘melepaskan’ tenaga ekstra dalam bentuk sebuah mimpi yang hidup. Cuma, mimpi ini munculnya jarang dan hanya pada orang tertentu yang batinnya terlatih. Simbol-simbol dari hasil pengalaman tertentu juga muncul dalam pikiran-pikiran kita pada saat-saat terakhir ketika kita akan meninggalkan dunia ini.
Mimpi dapat muncul apabila dua orang manusia mengirimkan pesan atau kabar satu sama lain melalui telepati batin yang kuat. Apabila seseorang mempunyai hasrat yang kuat untuk berkomunikasi dengan orang lain, ia berkonsentrasi dengan kuat kepada pesan dan kepada orang yang diharapkan untuk dihubungi. Pikiran yang sedang istirahat merupakan kondisi ideal untuk menerima pesan-pesan tersebut, yang dapat dilihat sebagai mimpi. Biasanya mimpi ini hanya muncul dengan kuat dalam satu saat dan pikiran manusia tidak cukup kuat untuk menahan kabar demikian di atas periode waktu yang panjang.

Mimpi

Istilah mimpi tentu menjadi tidak asing bagi kita. Pembahasan tentang mimpi telah berlangsung dari zaman ke zaman sejak adanya manusia. Freud menyatakan bahwa mimpi adalah sebuah saluran pengaman bagi emosi manusia, dimana emosi atau perasaan-perasaan yang ditekan selama terjaga dapat dikeluarkan secara sehat lewat mimpi. Mimpi yang oleh banyak peneliti disebut sebagai sleep mentation, mempunyai hubungan erat dengan emosi. Dikatakan bahwa kualitas mimpi dipengaruhi oleh keadaan emosi sebelum tidur. Seseorang yang sedang cemas, sering kali mengalami mimpi yang menyeramkan hingga mengganggu proses tidur (www.sleepclinicjakarta.tblog.com).

Mimpi disebabkan oleh proses biologis internal dalam tubuh. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sel otak besar pada bagian belakang otak secara periodik pecah dalam selang waktu sekitar 90 menit, dan mengirimkan rangsangan (stimuli) yang bersifat acak (random) ke bagian korteks (cortex) pada otak. Sebagai akibatnya, bagian memori, sensorik, kontrol saraf, dan kesadaran pada otak terstimulasi secara acak yang berdampak adanya rangsangan pada puncak bagian korteks pada otak. Menurut penelitian ini, proses diatas mengakibatkan kita mengalami apa yang kita sebut sebagai mimpi (www.medterms.com).

Aktivitas mimpi berhubungan pula dengan tahapan tidur seperti pada pembahasan diawal. Tahapan tidur REM (Rapid Eye Movement) merupakan tahapan tidur dengan disertai mimpi. Pendapat ini bisa dikatakan lebih ilmiah karena aktivitas tidur REM yang ditandai dengan gerakan mata cepat dapat diukur dengan alat tertentu. Alat ini dapat mengukur gelombang otak yang kemudian menggolongkan keadaan tidur berada dalam tahap yang mana.

Penelaahan tentang mimpi tidak terlepas dari pandangan-pandangan traditional menurut kepercayaan masyarakat tertentu. Sebagai contoh masyarakat jawa yang percaya bahwa mimpi adalah sebuah simbolisasi atau pertanda akan suatu kejadian. Beberapa orang bahkan sangat percaya pada mimpi dan menafsirkannya dan memaknai mimpi berdasarkan waktu terjadinya mimpi tersebut. Ada juga yang berada pada tahap ragu-ragu yaitu antara percaya dan tidak akan makna simbolisasi dalam mimpi. Dan ada juga yang menolak dengan tegas adanya penafsirkan mimpi atau pemberian makna sehingga menyatakan bahwa mimpi sebatas ”bunga tidur”. Proses mimpi juga berbeda-beda ada yang menyatakan mimpinya satu episode utuh, ada yang mimpinya berganti-ganti, ada yang masih dengan jelas mengingat mimpi pada waktu bangun dan ada pula yang tidak ingat apa-apa lagi tentang mimpinya. Demikian pula penjelasan tentang istilah mimpi pun masih belum bisa diterima secara global oleh semua orang.

Pembahasan tentang mimpi yang akan dikemukakan berasal dari empat orang responden yang bersedia untuk diwawancarai. Pembahasan mengarah pada aktivitas mimpi sehari-hari serta pendapat mereka tentang mimpi atau terjadinya mimpi. Responden pertama menyatakan jarang mengalami mimpi tetapi bila bermimpi biasanya satu episode penuh dan dapat mengingat mimpinya ketika bangun. Responden kedua mengaku mengalami mimpi yang berganti-ganti dan kadang satu episode tetapi tidak dapat mengingat pada waktu bangun. Responden ketiga sama halnya dengan responden pertama jarang mimpi dan mimpi dalam satu episode. Sedangkan responden keempat sering kali memaknai mimpi-mimpi yang dialami.

Pembahasan aktivitas mimpi responden pertama dan ketiga dimana responden jarang mengalami mimpi dan ketika bermimpi lebih sering satu episode yang kemudian dapat diingat ketika terbangun. Responden pertama mengatakan mimpi terjadi waktu dia harus bangun dalam artian pada waktu menjelang pagi. Responden ketiga tidak memberikan gambaran waktu kapan dia bermimpi. Salah satu responden mengaku maengalami mimpi ketika sedang dalam keadaan capek bekerja. Sedangkan responden satu lagi tidak dapat mendeteksi dalam keadaan apa dia bermimpi. Gambaran mimpi yang dialami biasanya berkisar dengan kejadian sehari-hari atau sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sama sekali. Kedua responden tadi menyatakan bahwa mimpi sebatas aktivitas mental yang tidak berarti, tetapi tidak dapat mengemukakan pendapat mereka tentang proses mimpi.

Responden kedua yang mengalami mimpi berganti-ganti dan intensitas sering. Menurut pendapat freud mimpi yang berganti-ganti menunjukkan kegelisahan akan suatu hal karena mimpi merupakan manifestasi alam bawah sadar. Akan tetapi responden kedua lebih setuju dengan pendapat bahwa mimpi merupakan aktivitas otak pada waktu tidur REM. Tahap tidur ini adalah tahap tidur paling awal sebelum delta dan alfa (tidur nyenyak). Kemungkinan responden kedua seringkali berada pada tahap tidur REM dimana belum mampu mengalami tidur alfa sehingga sering mengalami mimpi.

Responden selanjutnya bisa dikatakan unik daripada ketiga responden yang lain. Mimpi yang dialami seringkali dimaknai atau ditafsirkan sebagai simbol-simbol keadaan tertentu. Dia menggunakan pemaknaan mimpi secara tradisional dan membagi tahapan mimpi menjadi 3 menurut waktu terjadi dan kekuatan makna mimpi yang meningkat semakin pagi wakunya yaitu titiyoni (20.00-23.00), gandayoni (23.00-02.00), dan puspotajem (02.00- 04.00). Pemaknaan secara simbolisasi yang dikemukakannya tentu tidak secara global dipercaya oleh responden tersebut. Dia menyatakan bahwa mimpi memiliki kekuatan sugesti, itulah yang lebih penting. Ketika seseorang bermimpi dan mempercayai mimpinya, maka lingkungan akan mengarahkan.

Berdasar aktivitas-aktivitas mimpi tersebut, dapat dikatakan bahwa mimpi yang dialami oleh seseorang berbeda-beda dalam penampilannya. Ada yang bisa bermimpi secara utuh ada pula yang bermimpi secara berganti-ganti. Secara intensitas ada yang sering mengalami mimpi dapat dihubungkan dengan aktivitas tidur REM dan bagi mereka yang jarang mimpi dapat dikatakan sudah mampu mencapai tidur delta atau alfa (tidur nyenyak).

Sumber: http://luhmeategawati.blogspot.com/2009/01/all-about-mimpii.html